Rabu, 14 September 2011
SIAPA YANG DAPAT MASUK SURGA?
Mau atau tidak mau, suatu saat kita pasti mati lalu ada dialam baka untuk mempertanggung jawabkan hidup kita kepada Sang Pencipta, yakni Tuhan, hanya dua tempat yang tersedia bagi roh kita, surga atau neraka. Suka atau tidak suka kita harus memikirkannya. Orang yang paling bodoh adalah orang yang tidak perduli dia masuk surga atau neraka, penyesalannya kelak dineraka tidak ada lagi artinya, siksaan kekal tiada ujungnya, itulah bagiannya. Karena itu mari kita pelajari artikel ini dengan seksama, maka hidup anda tidak akan pernah sama lagi.
Informasi yang paling akurat tentang surga dan neraka adalah dari orang yang sudah pernah dari sana, dan satu2nya manusia yang tahu betul tentang surga dan neraka adalah Yesus Kristus, Tuhan. Karena itu marilah kita lihat penjelasan Yesus tentang surga dan neraka.
Apakah semua orang Kristen masuk surga? Saya akan bahas dari sisi siapa yang tidak masuk surga, alias siapa yang masuk neraka menurut kata Alkitab:
1. Yang tidak perduli Tuhan
Mat.25: 1- 13, Lima Perempuan bodoh dan lima perempuan bijaksana, menjelaskan siapa yang masuk dan siapa yang tidak masuk kedalam pesta mempelai surga
- 10 orang ini adalah orang2 yang diundang kepesta, artinya sanak saudara,
kenalan atau handai tolan.
- Menggambarkan, bahwa mereka adalah orang yang mengenal mempelai,
sehingga layak diundang. Orang2 kristen adalah orang2 yang mengaku
mengenal Tuhan Yesus, pengikut Kristus, mereka mendapat undangan dari
mempelai untuk turut dalam Perjamuan Mempelai disurga. DItegaskan lagi
bahwa ke 10 gadis ini menggambarkan orang2 kristen, bukan non kristen.
- Namun hanya 5 orang dari mereka yang masuk kedalam Perjamuan Mempelai, sedangkan yang lima lagi tidak mendapat kesempatan lagi.
- Menggambarkan bahwa dari semua orang Kristen yang telah terpanggil/ diundang hanya sebahagian saja yang masuk surga. Penyebab kegagalan yang 5 orang tersebut adalah karena mereka tidak mempersiapkan diri dengan sungguh2 dalam memenuhi undangan itu;
• Tidak memikirkan apa2 yang harus dipersiapkan
• Karena tidak memikirkan, akibatnya lupa mengisi minyak kedalam lampu
• Karena tidak serius untuk mengikuti pesta maka timbul ketidak sabaran
dalam hal menunggu
• Ketidak sabaran ini membuat mereka bosan menanti dan akhirnya tertidur
Menggambarkan perjalanan hidup orang Kristen, banyak yang tidak ada waktu memikirkan Tuhan, terlalu sibuk memberi pikiran kepada hal2 yang duniawi, mengejar prestasi habis2an, memburu impian, terlalu focus pada masalah2, terpuruk pada persoalan yang ada, sehingga lupa yang terpenting, yakni mencari Tuhan dan perduli akan hal- hal rohani. Orang2 yang tidak perduli akan perkara2 rohani seperti 5 gadis bodoh ini pasti akan tertinggal, tidak masuk surga, tempatnya di neraka.
2. Tidak Mengerjakan tugas dan tanggung jawab yang diberikan Tuhan.
Mat.25: 14- 29, Yesus menceritakan perumpamaan tentang talenta. Kembali gambaran dari perumpamaan ini menunjuk kepada orang2 dalam, artinya orang2 kristen, bukan non Kristen, bahkan lebih detail lagi, orang2 yang sudah terpanggil menjadi hamba dari sang “Tuan” (The Lord) , yakni Tuhan.
Tidak semua yang menyebut dirinya “hamba Tuhan” masuk kedalam kebahagian tuannya, yakni Surga, dari tiga orang hamba dalam cerita ini, ada dua yang masuk dan satu orang tidak masuk surga, mengapa?:
- dia tidak mensyukuri kepercayaan/ tugas dan tanggung jawab yang diberikan tuannya, melainkan dipandang sebagai beban yang memberatkan hidupnya
- dia tidak mempercayai niat baik tuannya, melainkan dia melihat tuannya sebagai orang yang kejam, dan yang tidak adil, tuan yang tidak berbelas kasihan, yang karakternya adalah penindas
- dia tidak menghormati tuannya dan memandang rendah perintahnya sehingga dia tidak sungkan untuk menanam saja talenta tersebut
- dia pemalas, tidak mau berpikir, malas berusaha dan berjuang untuk pelipat gandaan
- dia seorang hamba yang tidak taat kepada tuannya, disebut hamba yang tidak berguna
Tidak perlu saya uraikan panjang lebar lagi, sudah jelas, banyak orang2 kristen, hamba Tuhan yang masuk
neraka, yang tipenya seperti perumpamaan diatas. Lebih jelas lagi yang tertulis dalam
Mat.7: 22 Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?
Mat 7:23 Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"
3. Siapa yang masuk surga dan siapa yang masuk neraka juga dapat dilihat dari
penjelasan Yesus dalam Injil
Matius 25: 31- 45. Bagaimana Tuhan memisahkan yang seorang dengan yang
seorang seperti gembala memisahkan doma dari kambing.
“Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya:
Enyahlah dari hadapanKu, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke
dalam api yang kekal yang telah sedia untuk Iblis dan malaikat-malaikatnya.
Mat 25:42 Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku
makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; Mat 25:43
ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku
telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam
penjara, kamu tidak melawat Aku. Mat 25:44 Lalu merekapun akan
menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar,
atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam
penjara dan kami tidak melayani Engkau? Mat 25:45 Maka Ia akan
menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu
yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling
hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. Mat 25:46 Dan mereka
ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam
hidup yang kekal."
Kesimpulannya, walaupun seseorang memiliki identitas sebagai seorang Kristen
tetapi jika dia hidup hanya untuk diri sendiri, tidak mau menoleh kepada yang
miskin dan sengsara, hidup egois tidak memiliki belas kasihan, maka dia akan
masuk neraka
LALU SIAPA YANG MASUK SURGA DAN BAGAIMANA CARANYA MASUK KE SURGA?
Alkitab begitu hebat, dahsyat dan luar biasa, menjadi jawaban atas segala pertanyaan. Marilah kita
Lihat apa kata Alkitab. Orang yang dapat masuk surge adalah ;
1.Orang yang dilahirkan kembali atau disebut “Lahir Baru”, Joh.3: 1- 21
Penegasan Yesus kepada Nikodemus dalam Joh 3:5 Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu,
sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam
Kerajaan Allah. Joh 3:6 Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan
dari Roh, adalah roh. Joh 3:7 Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu
harus dilahirkan kembali.
Nikodemus, untuk istilah saat ini pastilah disebut seorang seorang Pendeta, Phareses, atau bisa jadi
Ephorus, Dosen agama, dari golongan Farisi yang kekhususannya adalah mendalami Taurat, dan
Nikodemus adalah ahlinya karena dia diangkat sebagai pemimpin agama. Namun dia masih belum
jelas bagaimana caranya seseorang bisa masuk surga sehingga secara diam2 dia datang kepada
Yesus untuk bertanya. Jawaban Yesus jelas dan tegas. “harus dilahirkan kembali”. Dilahirkan oleh
Roh Kudus ketika diundang masuk kedalam hatinya.
Dilahirkan kembali adalah syarat awal, urutan yang pertama. Artinya percaya/ beriman kepada Tuhan Yesus, lalu mengambil keputusan untuk mengangkat Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya, mengundang Dia masuk kedalam hatinya, sebagai Penguasa, Tuan, Tuhan, Pemimpin hidupnya secara pribadi. Wahyu 3 : 20 Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku. Kata2 ini ditujukan kepada jemaat di Laodikia. Mereka sudah jemaat, tetapi Yesus belum bertakhta dihatinya, maka Yesus berdiri dimuka pintunya mengetuk, jika percaya dan mau mempercayakan hidupnya kepada Tuhan Yesus, mengundang Dia, maka dengan senang hati Yesus akan masuk kedalam hati/ hidupnya. Makan bersama artinya memberi kenikmatan hidup dalam suka dan duka.
Pada saat yang sama, “Penyelesaian dosa” dengan cara; menyerahkan segala kenajisan dan dosa yang tersembunyi dalam pengakuan dosa dan mohon pengampunan untuk dibasuh dengan darah Yesus yang tercurah dikayu salib karena dosa manusia. (detailnya ada dalam bahasan berikutnya) Selanjutnya babtisan merupakan legasisasi dari “Lahir Baru” tersebut.
2. Hidup Baru, Kol.3: 5- 10
Kol 3:5 Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala,
Kol 3:6 semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka).
Kol 3:7 Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup di dalamnya.
Kol 3:8 Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.
Kol 3:9 Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya,
Kol 3:10 dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya;
Mentaati, melakukan Firman Tuhan dengan iman percaya bahwa Dia baik dan semua rencanaNya selalu yang terbaik buat hidup kita. Jangan seperti hamba yang menanam satu talenta itu, yang tdk mempercayai niat baik tuannya, jadilah seperti hamba yang menerima dua dan lima talenta, percaya nita baik tuannya, yakin rancangan tuannya selalu baik, menghormati, menghargai dan mentaati tuannya.
3. Bertumbuh dalam Pengenalan akan Tuhan
- Kol 3:16 Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu. Kol 3:17 Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.
- Mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap akal budi, kekuatan bahkan segenap hidup
- Mencintai Firman Tuhan, merenungkan siang dan malam. Kol 3:2 Pikirkanlah perkara yang
di atas, bukan yang di bumi. Jangan seperti 5 gadis bodoh yang cuek terhadap hal2 terpenting
- Mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Jangan hidup hanya untuk diri sendiri, apa yang anda miliki dizinkan Tuhan anda miliki dengan tujuan agar dapat berbagi dengan sesama, sehingga mereka bersyukur dan memuji Tuhan dan andapun bersukacita.
Kalau begitu, kita mulai dengan yang pertama., yaitu “Lahir Baru”.
Siapapun yang membaca artikel ini, pastikan anda sudah Lahir Baru. Kalau belum pelajari metode dibawah ini, akan menolong anda untuk mengerti Lahir Baru bahkan masuk kepada zona, “Lahir Baru”. Kalau sudah pernah mengundang Yesus masuk dihati dan sudah Lahir Baru, Pelajaran ini sangat berguna bagi anda untuk menuntun orang lain kepada Kelahiran Baru. Mudah karena sudah didesain dengan sederhana, namun pengertiannya sangat dalam. Dapat dijadikan khotbah jam, dapat juga disampaikan dalam bentuk kesaksian 10 menit. Dapat dijadikan buku kecil yang ditempel dibelakang Alkitab sehingga dapat dipakai setiap saat seperti seorang prajurit yang siap menggunakan senjatanya. Bahasanya sederhana dapat dimengerti anak2, orang tua, org yang buta huruf namun juga berbobot untuk disampaikan kepada raja2. Metode Penyampaian ini saya sebut “Dari Firdaus ke Kalvary”. Sudah disampaikan dan menyelamatkan puluhan ribu orang sejak tahun 1985. Bahkan dengan memakai Metode ini gereja2 Tuhan didirikan, karena orang2 yang sudah diselamatkan ini membentuk Kelompok2 Belajar Alkitab, Persekutuan2 Doa, dan akhirnya menjadi Kelompok jemaat yang memiliki denominasi gereja, Bahan ini efektif untuk Penanaman Gereja kalau anda tekun melakukannya langkah demi langkah. Selamat mempelajari dan melakukannya, maka anda akan menuntun banyak orang ke jalan Surga.
JALAN KESELAMATAN
Dengan MetodeDARI FIRDAUS KE KALVARY
Pertanyaan PEMBUKA PINTU Antara Lain.:
- Maukah anda selamat?
- Inginkah anda berbahagia?
- Bersediakah anda ditolong Tuhan?
- Sudahkah saudara lahir Baru?
- Dll.
Berdoalah, dengan bersuara ataupun dalam hati, menurut situasi dan kondisi, inti doa:
- Minta Roh Kudus bekerja.
- Ikat roh-roh setan
I. Ketahuilah bahwa Tuhan mengasihi manusia dan mempunyai Rencana yang baik untuk manusia, Kej. 1:26
- Tuhan tidak katakan, Marilah kita ciptakan manusia supaya menderita dan sengsara”
- Tuhan katakan, “agar mereka menguasai bumi dan menikmatinya.”
II. Tetapi Dosa menghambat kasih dan Rencana Tuhan, Kej. 3
- Manusia meragukan Firamn tuhan dan lebih mempercayai dusta iblis.
- Sejak itu hati manusia condong kepada dosa Kej. 6:5
- Kasih dan rencana Tuhan terhalang, contoh seorang anak yang lari dari rumah.
ADA TIGA JENIS DOSA:
1. Dosa Perbuatan Daging, Gal 5:19-21
perhatikan kata:
• “Dan sebagainya, “berarti masih banyak yang dapat ditambahkan seperti berbohong, menipu, mencuri, memakai curang, bicara kotor, pikiran kotor, cabul, menghina, dsb.
• Tidak mendapat bagian dalam kerajaan Tuhan”, berarti jika mengandalkan kebaikan sendiri, tidak seorangpun dapat masuk sorga, karena semua orang pasti berdosa.
• ”Tanyakan, “apakah saudara orang berdosa?”
2. Dosa Kuasa Gelap (Okultisme), Ul. 18:10-12
- Jenis ini adalah dosa kekejian bagi Tuhan
- Dosa ini berhubungan langsung dengan musuh Tuhan yakni iblis, roh-roh jahat, setan-setan.
- Tidak ada dukun yang dari Tuhan, bukan obat ramuan yang emnjadi masalah, tetapi roh-roh yang ada pada dukun adalah roh-roh jahat yang menyamar sebagai roh yang baik untuk dapat menipu manusia, 2 Kor 11:14.
- Ilmu mengobati yang ada pada dukun bukanlah dipelajari dari bangku sekolah, melainkan diberi oleh roh yang masuk kedalam tubuhnya.
- Roh yang masuk tersebut menipu dengan mengaku sebagai roh orang mati, firman Tuhan katakan tidak ada roh orang mati di dunia Pengkhotbah 9:5-6, Luk. 16:27-28.
- Juga tenaga dalam ketika belajar ilmu bela diri adalah berasal dari kuasa-kuasa roh di udara.
3. Dosa keturunan Kel, 20:5
- Yang dibalaskan adalah dosa okultisme.
- Kakek yang berdukun terkutuk sampai ke anak cucu.
- Bapak yang berdukun, anaknya juga kena kutuk.
AKIBAT DOSA:
1. Terpisah dari Tuhan, Yes 59:1-2
• Bukan Tuhan tidak bersedia menolong, tetapi dosalah yang menghalangi.
• Tuhan kudus, manusia kotor, tidak dapat bersatu kecuali setelah disucikan Tuhan.
• Bagaimana cara disucikan, ikutilah selanjutnya.
2. Kutuk Dosa, Ul. 28:15-45
- ayat 16 artinya, kemanapun pergi, tetap sial dan terkutuk.
- Ayat 17, kutuk kemiskinan
- Ayat 18, usaha selalu gagal
- Ayat 19, dari lahir sampai mati, tetap sial
- Ayat 20, huru hara artinya kekacauan dalam berbagai hal. Kacau dalam pikiran, dalam rumah tangga, diperkejaan, dalam pergaulan, dsb
- Ayat 22, penyakit silih berganti
- Ayat 28, gila, buta, dsb.
3. Mati masuk neraka, Wah. 15:20
- Ada buku kehidupan, jika sampai mati belum juga mendaftar, masuk neraka.
- Sekarang pendaftaran masih terbuka karena masih zaman anugerah
- Cara mencaftar, ikut seterus.
III. Jalan keluar Oleh Tuhan Yesus
1. Hukuman karena dosa, ditimpakan kepada Yesus.
2. Kita yang yang jahat, Yesus yang disalibkan
3. Kita yang membrontak, Yesus yang dicambuk
4. Tangan dan kaki kita yang berbuatdosa, tangan dan kaki kita yang dipaku
5. Kita yangs eharusnya masuk neraka, tetapi Yesus masuk ke alam maut
6. Kita yang harus dikutuk, tetapi Yesus mati sebagai orang terkutuk.
ANUGERAH TUHAN
1. Dia yang maha Mulia menjadi hina agar kita yang hina menjadi mulia.
2. Dia yang Maha Kuasa menjadi lemah agar kita yang lemah meiliki kuasa.
3. Dia yang Maha kaya menjadi menjadi miskin agar kita yang miskin menjadi kaya
4. Dia mati agar kita hidup
5. Dia menanggung kesakitan agar kita tidak lagi menanggung sakit penyakit.
IV. Tawaran Anugerah
Melalui pengorbananNya dikayu salib, Tuhan tawarkan 5 hal yg utama, yakni:
1. Pengampunan Dosa Yes. 1:18
• Tuhan tidak berkata, “hai orang berdosa pergilah menjauh, sucikan dulu dirimu, tetapi Tuhan berkata, “Hai orang berdosa marilah kepadaku agar kusucikan hidupmu dari dosa”.
• Bagi Tuhan bukan masalah besar atu kecilnya dosa, tetapi bahwa Tuhan telah mati disalib bagi pengampunan dosa kita.
• Inilah yang disebut Kabar baik karena tersedia pengampunan gratis tanpa bayar.
2. Kutuk Diangkat digantikan dengan Berkat, Gal 3:13-14
- Yesus telah mengambil kutuk kita dengan jalan menjadi kutuk karena kita.
- Lalu Yesus menggantikannya dengan berkat Abraham, yaitu 3 berkat berganda:
1. Berkat Rohani, iman yang teguh
2. Berkat jasmani, tubuh yang sehat
3. Berkat materi, tidak berkekurangan.
3. Diangkat menjadi anak Tuhan, Yoh 1:12
- Diadopsi menjadi anak Tuhan, dan Tuhan yang maha tinggi menjadi Bapa kita.
- Kalau Tuhan menjadi Bapa, maka terjaminlah hidup kita.
- Kalau sudah menjadi anak, jika bersalah tidak dibuang, tetapi di bimbing.
4. Nama tertulis di surga, Luk. 10:20
- Jika anda percaya dan menerima Yesus maka saat ini namamu, dituliskan disurga.
- Kalau sudah terdaftar, kapanpun mati pasti masuk surga
5. Yesus masuk dihati, Wah. 3:20
- Yesus berkata, “bukalah, Aku hendak masuk”
- Syaratnya, “jika engkau buka, aku masuk”
- Kalau dia masuk dihati, tidak akan keluar masuk.
- Jika Yesus masuk dihati, kita diberi hati yang baru dan diberi kuasa melawan dosa dan mengalahkan iblis
- Dia akan bertahta, berkuasa dihatimu dan memimpin hidupmu.
JIKA ENGKAU MERINDUKAN UNTUK MENERIMA PAKET KESELAMATAN INI, JAWABLAH DUA PERTANYAAN INI:
1. Apakah engkau bersedia membuka pintu hatimu dan mengundang Yesus masuk?
2. Karena dosalah sumber malapetaka, apakah engkau menyesali dosamu, minta ampun menyerahkannya?
DOA MENGUNDANG YESUS
Tuhan Yesus yang mengasihi saya, saya bersyukur kepadaMu Tuhan, karena Engkau mencintai saya, orang yang berdosa, aku sambut kasihMu, aku bukan pintu hatiku, ku undang Yesus, masuklah ke dalam hatiku, menjadi Tuhan dan Juruselamatku, bertahtahlah dihatiku, memimpin hidupku, sampai aku masuk surga, sucikanlah hidupku, dari segala dosa, dosa iri hati, amarah, kebencian, perselisihan, bicara kotor, memaki, menipu, berbohong, pikiran kotor, cabul, memberontak, serakah, menipu, curang, percaya dukun2, tangkal dan jimat, menghormati roh-roh diudara, dan dosa-dosa lain, sucikanlah hidupku bersih, putih seperti salju. Terimakasih Tuhan, aku percaya saat ini, dosaku sudah diampuni, karena janji FirmanMu. Angkatlah segala kutuk, dari hidupku, kutuk dosa, kutuk sial, kutuk penyakit, kutuk kemiskinan, angkatlah semua dari hidupku, dan gantikan dengan berkat, aku minta berkat Abraham, berkat rohani, berkat jasmani, dan berkat materi, karena aku anakMu. Berilah aku kekuatan, melawan dosa, membenci dosa, dan meninggalkan dosa, serta beri dorongan, membaca Akitab setiap hari, dan berdoa senantiasa. Tuliskanlah namaku, dibuku kehidupan, aku mendaftar hari ini, sehingga, kapan saja aku mati, aku boleh masuk surga.
Terimakasih Tuhan, atas anugrah yang besar, yang kuterima hari ini. Aku lahir baru, dosaku diampuni, Yesus masu dihatiku dan aku beroleh hidup yang kekal. Kupuji kumuliakan namaMu sampai selamalamanya, dalam nama Yesus, aku bersyukur dan berdoa. Amin.
TAHAP KE II, PEMUTUSAN IKATAN DOSA, SEBAGAI PENGUMUMAN KEBEBASAN DARI BELENGGU)
(Pakai Daftar Dosa)
DOA PEMUTUSAN
Dalam nama Tuhan Yesus yang berkuasa, Penguasa di atas segala ikatan dosa yang pernah mengikat s………ini, melalui praktek…… (bacakan daftar kuasa gelap), pada hari ini diputuskan segala ikatannya, dihancurkan segala kuasanya, dibatalkan perjanjiannya dan tidak sangkut paut lagi dengan roh-roh jahat di udara, karena s….. ini telah menjadi milik Yesus, darah Yesus tertanda atas dia, sehingga roh-roh jahat tidak berhak lagi atas hidupnya. Dan segala tabiat-tabiat dosa yang ada dalam tubuh roh jiwanya aku cabut hari ini, yakni……. (bacakan daftar dosa perbuatan daging) dibuang dalam nama Tuhan Yesus dan digantikan dengan tabiat baru, yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Terimakasih Tuhan atas anugrah yang besar ini, apa yang kami putuskan dibumi terputus dari surga, sehingga sekarang si…..ini telah menerima Penebusan dan pembebasan dari dosa. Terpuji Engkau Tuhan, didalam nama Tuhan Yesus, aku menaikkan syukur dan doa ini. Amin.
Chek and rechek :
1. Dimana Yesus sekarang?
2. Dosamu sudah diampuni atau belum?
3. Kalu mati ke surga atau ke neraka?
Dan yang terakhir, doakanlah pergumulannya, lalu bimbing dia cara membaca Alkitab setiap hari, minta ampun dosa jika ada kesalahan, dan berdoa senantiasa serta arahkanlah untuk mengikuti Persekutuan Kristen.
PENYELESAIAN DOSA
Yesaya 1:18 “Marilah, baiklah kita beperkara! -- firman TUHAN -- Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.
Jika Saudara rindu untuk diampuni dan disucikan oleh kuasa darah Yesus Kristus, akuilah dosa-dosa yang pernah diperbuat. Berperkara artinya bukakan, kemukakan, nyatakan, sesali dan minta ampun, niscaya Saudara akan disucikan dari segala dosa (IYoh 1: 9). Untuk menolong Saudara, di bawah ini ada Daftar nama-nama Dosa, harap digaris bawahi jenis dosa mana yang pernah Saudara terlibat, sebagai tanda terbuka untuk diselesaikan, disucikan.
DOSA KUASA GELAP (OKULTISME):
Pernah meminta jasa dukun untuk ; diramal, menanyakan barang hilang, berobat, berkusuk , minta pelet/ pemanis, pelaris, jimat, ilmu kebal, pertahanan/ penjaga badan, penjaga rumah, mengguna-gunai orang, menyantet. Meminta jodoh, minta ilmu tunduk, minta tenaga dalam, bela diri, kekuatan gaib, memanggil roh-roh orang mati, belajar hipnotis, minta ilmu kebal, minta menang tender, naik jabatan, belajar mantera, telepati, sihir. Melakukan praktek okultisme seperti; mandi air bunga, percaya tahyul2, main jailangkung, mengikuti upacara keagamaan lain selain kristen, belajar buku2 mimpi, berhubungan lewat mimpi dengan orang2 mati. Pernah memakai benang benalu, mengambil tanah kuburan, berdoa dikuburan, mandi jeruk purut, mandi air bunga, buang sial dengan berbagai cara, berbicara dikuburan, permisi ditempat2 keramat, menghormati tempat2 keramat, memberi sajen kepada roh orang mati, menyimpan benda keramat, mewarisi ilmu titisan nenek moyang, merajah tubu atau tatto, minum air dari tengkorak, menangkal bala, menangkal begu ganjang, menjadi pawang, memakai minyak bertuah, meniti hari baik, memberi sajen diladang untuk kesuburan, yoga, semedi, horoscop, dukun patah, dll.
DOSA PERBUATAN DAGING:
Iri hati., berbohong/membual, memaki, menghina/ menganggap rendah orang lain, menghujat , mengejek, bicara kotor, bertengkar, sulit memaafkan, membenci, mendendam, menciderai , menganiaya, bicara kotor, pikiran kotor, cabul, porno, zinah, masturbasi., memperkosa, diperkosa, selingkuh, baca buku porno, nonton film porno, memiliki buku/ VCD porno, suka membayang-bayangkan perzinahan. minum minuman keras, judi, mencopet, mencuri, merampok, menipu, malas ke gereja, meragukan Tuhan, pernah memakai obat-obat terlarang (narkoba), pemalas, egois, sombong, Serakah/rakus, membungakan uang, senang melihat pertumpahan darah, memberontak terhadap orang tua, mudah tersinggung, mudah marah, sering curiga terhadap orang lain, sukar mengakui kesalahan , suka mencari kambing hitam, suka menjatuhkan orang lain, pernah membunuh, memukul, melukai, ,tidak perduli akan kesusahan orang lain, senang menggossip, suka mencari kesalahan orang lain, kikir, banci, homo, lesbi
dll…………………………………………………………………………………………………………………
KETERIKATAN UNTUK DOA PEMBEBASAN : ada sakit hati, membenci seseorang, sedang kecewa, patah hati, tidak bisa tidur, hubungan seksual (suami/ istri) tidak normal, hubungan dengan family tidak baik, rumah tangga tidak harmonis, hubungan anak dengan orang tua tidak baik, dililit hutang, ketakutan, minder, tidak bisa bergaul dengan orang lain, tidak bisa pegang uang (boros), selalu gagal dalam usaha, dll.
UNTUK PEMUTUSAN DOSA KETURUNAN
Nama/ usia :
Pekerjaan / status :
Alamat : Status: tidak menikah, menikah
Nama ayah
Nama kakek:
PENGAKUAN IMAN (JAWAB PERTANYAAN DIBAWAH INI)
1. Menurut imanmu apakah Roh Tuhan sudah masuk dihatimu? ( sudah, belum)
2. Setelah engkau mengakui dosa2mu, apakah sudah diampuni Tuhan dan disucikanNya? (sudah, belum)
3. Kalau ajal datang menjeput, kemana rohmu pergi? Kesurga atau keneraka? (kesurga, keneraka)
Kalau kesurga apa alasannya dan kalau keneraka apa alasannya? Tuliskan jawaban
……………………………………..koyak disini, lembaran bawah berikan kepada Conseli
BERDOALAH MENGUCAP SYUKUR ATAS ANUGRAH TUHAN YANG TELAH DITERIMA HARI INI.
STT OI SIDIKALANG, JL. RIMO BUNGA, PANJI, SIDIKALANG, HP.081361325782 ; 081319029770
Selasa, 13 September 2011
The Modified Engel Scale
Part One: Introduction
- Background
Some years ago, James Engel wrote a book which profoundly changed many people's idea of evangelism. The book, What's Gone Wrong With The Harvest? (published by Zondervan) introduced a tool which has become widely used and known as 'the Engel Scale'.
The Engel Scale has been used to introduce many Christians to a new understanding of evangelism. In the past, people have often seen evangelism only in terms of people being converted. Understood this way, most of our evangelism must be counted as pure failure. Few people can live with that level of failure, and few survive as evangelists, or even as effective witnesses, for long.
The Engel Scale completely changes this picture. If you understand something of the journey a person must take in order to discover God, then you know that helping someone take one more step towards God is successful evangelism just as much as helping them over the final line. The Engel Scale helps people to understand this journey.
Evangelists have long known the truth of this, but it has not often been taught and understood. Almost everyone who makes a commitment to Jesus has a story to tell of people and events in their lives bringing them closer and closer to the point of total surrender. Some figures indicate that the average length of the journey, from the time people start looking for God to the time they find Him, is four years. However reliable that figure, and whatever it means, it is clear that for most people the journey to God is a long one.
So the Engel Scale can help us. However, the scale as traditionally used has a number of drawbacks, both in the description of the journey and in the way people have tried to use it. I offer here a modified scale to answer the first problem, and a brief description of the stages and some further thoughts to help answer the second.
This is not intended to be a training manual for people who wish to become evangelists, but something to assist anyone who wants to share their faith in a way which fits what God is doing in the lives of the people they meet.
The Modified Engel Scale is, of course, a vast over simplification of the series of miracles which transforms an unregenerate sinner into a child of God. Each one of us is called individually and responds in a unique way. But the scale contains enough detail, and the details can be seen working out in real life often enough to make it useful.
And the more we allow ourselves to be sensitive to what the Spirit is doing in the lives of the people we meet and speak with, the more fruitful our conversations will be, whatever the outcome.
- The Modified Engel ScaleThe Dynamics of New Birth
Level Description God Is Man's Task
-12 No God framework Confirming Prayer
-11 Experience of emptiness Presence
-10 God framework Revealing
-9 Vague awareness and belief in God
-8 Wondering if God can be known Preparation
-7 Aware of Jesus Guiding
-6 Interested in Jesus
-5 Experience of Christian love Proclamation
-4 Aware of the basic facts of the gospel Convicting
-3 Aware of personal need
-2 Grasp the implications of the gospel Power
-1 Challenged to respond personally Converting
0 Repentance and faith
+1 Holy Spirit and baptism Transforming Encouragement
+2 Functioning member of local Church Empowering
+3 Continuing growth in character, lifestyle and service
+4 Part of Team Leadership Support
Please note that the characteristics of our task are cumulative: at stage -9 for example, we are to pray and reveal God's presence. For the sake of clarity this has been omitted from the diagram.
- Overview
The fundamental message behind the scale is that salvation is a process. God is doing different things at the different stages, and we need to modify our behaviour and prayers accordingly. We therefore need to be sensitive to where the person is, and what God is doing right now. People sometimes move through the stages quite quickly, and sometimes more than one stage at once (Paul moved from -7 to 0 in a few seconds on the Road to Damascus) but this does not happen very often.
The various stages can be seen as steps along the traditional 'bridge' diagram.
Before looking at the stages in detail, it is interesting to note that the twelve steps between -11 and 0 fall naturally into four groups of three. In each of these four groups, we have an experience followed by an intellectual step followed by the corresponding personal or emotional step. This is the way God usually works: experience, message, response. Or, if you prefer, from feeling through intellect to the will. This idea is followed up in Appendix 1.
The steps from +1 to +4 do not follow the same neat pattern. Stage +1 is, in the Bible, part of the Salvation package. It is shown as a distinct stage here because that is the experience of most people, not because God wants it to be that way. Stages +2 to +4 are all present in embryo in stages 0 and +1: the whole of the Christian life consists of working out and learning to use what we have already been given in Christ. God continues to teach us through the same pattern: experience, message, response; but from this point He takes us along diverging paths.
Part Two: The Stages
- No God Framework (-12)
God is Confirming; our main task is to pray.
People at this stage have no place in their mental picture of the universe for God to fit into: they live in a world totally devoid of any supernatural element. They cannot even ask the question 'Is there a God?' because their belief about the nature of the universe makes such a question meaningless. For them, not only is there not a God, but it is not possible that He can exist.
They may talk - often very intelligently - about God, His Nature and Attributes. But such talk is very misleading: when they say 'God' they mean a myth, a construct of subconscious desires, or a tool of political manipulation. In the same way, I can talk about dragons: they form part of my cultural heritage, I have read stories in which they feature and so on. For people at this stage, God and dragons both exist, but only as myths and characters in stories made up by people. They may even enjoy such stories, but 'know' that they are simply fantasies which have nothing to do with the 'real' world.
This is regarded as the 'scientific' position by most people today. It is the modern orthodoxy. As with most orthodoxies down the centuries, far fewer people actually believe it than claim to.
God's activity at this stage consists largely in confirming and clarifying the implications of such a position. He faces them, in essence, with the issue of personal integrity: if you choose to believe this, are you prepared to live with the consequences?
People at this stage see themselves as living 'in touch with reality' or some similar phrase. This is the way the universe is, that is all. Other people may choose to believe all kinds of things, but they do not see themselves as having chosen a set of beliefs, or even (very often) having any beliefs of any significance. If they can see they have chosen to believe this, there is opened up the possibility they can choose to believe something different if the facts appear to support a change.
While our main task is to pray for these people, it would be very unscriptural to suggest this is all we should do. There is no harm in talking about God as a living presence in your life - it may do little to help at this stage, but the Holy Spirit can bring such testimony to mind later, when it is more relevant. And it is always right to communicate Jesus' love in practical ways: again, it may be more directly relevant in an evangelistic sense later on, but it is always our Father's desire to bless people. 'Doing good' as an expression of God's love is always valid, whether it directly contributes to some evangelistic effort or not.
- Experience of Emptiness (-11)
God is Revealing; our task is to pray and communicate His presence.
People often hold the position of 'No God framework' in their heads, but do not allow it to connect with them personally. At this next stage, that connection has taken place. Our first prayers for them have been answered. Understanding this point is vitally important, as it is one of the defining characteristics of the twentieth century.
If there is no room in your universe for a God, for any transcendent reality you care to put a name to, nothing more than the bare molecules, then life has no meaning, no purpose. Things like 'purpose' and 'values' only exist in our minds: we can pretend our life has meaning, that the human race is more than a cosmic accident, but this is mere sham. Life is totally empty and futile. Your life is pointless; all human life is pointless; the universe itself is pointless.
This is the position of 'modern man' as described graphically by the Existentialists: Jean-Paul Sartre, Albert Camus, and their followers. This is the source of the angst described in so much modern literature.
On a more popular and accessible level, Douglas Adams described this experience of emptiness in the Hitchhiker's Guide to the Galaxy. According to this work, the 'Total Perspective Vortex' is the worst torture any sentient being can possibly experience. That is a singularly profound observation, and remarkably close to the truth. Very few people can linger at this stage for long.
If a universe without God is such a barren, meaningless place, people start to consider the possibility that there may be a God after all. Perhaps they were being too hasty and dogmatic to rule out the possibility so quickly?
Some people object that we cannot communicate God's presence to someone who does not recognise the possibility that God exists. That is only partly true.
Firstly, the experience of emptiness makes them open to more than they currently allow to be possible.
Secondly, they can experience something of God's presence through you even if they don't believe in Him.
And thirdly, they know in their heads that other people have a space for God in their heads. What they do not appreciate is that other people have the reality of God's presence in their lives. They do not need arguments for His existence - something the Bible never offers or suggests - they need the assurance that for other people God is not just a theory, but is actually real in their experience. Without this - and the possibility that these people may not be completely deluded - they see no escape from the dreadful emptiness within.
- God Framework (-10)
God is Revealing; our task is to pray and communicate His presence.
Most people, once they are faced with the reality of a universe without God, rapidly move to the point when they are willing to accept the possibility that there may be a God. It is hard to be totally dogmatic that the universe is meaningless, especially when so few people around you really believe it. So don't be dogmatic: leave the door open a crack. Allow the logical possibility that you may be mistaken, that there may be room in this universe for a God. After all, how can you be sure about such things?
Once God becomes a real possibility, you have a 'God framework'. Once people have a God framework, you can start to communicate not only His presence to them, but also something of His character. This can be very low-key: perhaps just let them know that you are sure He cares about them. And, as you tell them something of His character, God is usually revealing Himself to them in a very gentle and unhurried way.
- Vague awareness and belief in God (-9)
God is Revealing; our task is to pray and communicate His presence.
Once you believe in the possibility of a God 'somewhere out there' it is very difficult not to take the next step and believe in a vague way that He does exist. We find it hard to hold a position of simple 'not knowing' - the typical agnostic is deciding not to face up to these questions. Very few people can really hold to a position of 'I do not know' or even 'We cannot know' and leave it there.
So, for most people, 'perhaps there is a God' becomes 'I believe there might be a God' and for many this moves on to 'I believe there probably is a God - out there - somewhere.'
Many people we talk to are here. Very few set out on a quest for God - they are too afraid of what they will find. This is about as far as people get 'on their own' (they are never really on their own, but of course to them it often seems that way) and it usually takes God to step in and do something, either directly or through His people, to encourage someone to move on from here.
As you continue to communicate His presence in your life, through what you say and do, they begin to appreciate that you not only seem to know about God, you seem to know Him personally. This prepares the ground for the next step.
- Wondering if God can be known (-8)
God is Revealing; our task is to pray, communicate His presence and prepare them.
This is in some ways the most risky step anyone takes. The possibility that there may be a God becomes personal. This is not an intellectual game: it now involves real risk. If I allow myself to wonder, I start to hope; if I start to hope that God can be known, if I try to do things to find Him, I risk deep disappointment if it turns out there is no God after all or I cannot find Him, or He turns out to be vengeful and unpleasant after all.
Most of us have encountered the deep bitterness and disappointment of someone who has fallen away from following a formal religion. This is the risk people are taking when they start to wonder if God can be known - can be known by them. It is a very fragile position, and people here need very careful handling.
God is revealing to them that He can be known, and there are ways to get to know Him. Our job here is to prepare people. Prepare them for what? Prepare them for the Gospel. And, for many people, the essential preparation at this stage is to help them overcome what is known in the trade as the 'scandal of particularity.'
This is a dreadful phrase, but it describes the problem nicely. Up to this point, God is a sort of universal concept. He is probably understood to be 'everywhere' - but if He is everywhere, there is no point in going anywhere to meet Him, is there?
- Aware of Jesus (-7)
Many people will have been aware of Jesus, or the Christian faith, long before this stage, but up to this point Christianity has always been thought irrelevant. This is a hard point for many Christians to grasp: there are people who are actively looking for God but it simply does not occur to them to try the Church. They may live next door to a Church building, they may have gone to Sunday School, but they simply do not make the connection between Church and God.
Once people start wondering if God can be known, they are then in a position to consider the possibility that the Christian faith may have something to offer. The church, for these folk, does not necessarily have the complete answer, but at least it contains people who have some interest in - and maybe a knowledge of - God.
People at this stage do not need to be told that 'Jesus has all the answers' or 'Jesus is the only way to God.' Such things appear to be dogmatic, to come from a closed mind. They were (perhaps until very recently) dogmatic themselves, they had a closed mind against God: they do not want to retreat to that position of safety right away. They want to risk, they want to explore, they want to open up to the possibilities the world contains.
What they need to hear is that Jesus can offer them a way to get to know God better. He is willing to take them just as they are, just where they are, that He welcomes people with doubts and fears and uncertainties. They need to hear they do not need to be saints. They are allowed to start exploring the Christian Faith right now.
- Interested in Jesus (-6)
Once there is a desire to know God, and the recognition that Christianity, or perhaps that strange historic character called 'Jesus,' may be able to offer some help, the person can then decide to do something about it and show an interest. The door to God is opened in a new way.
The danger for some people is that they stay here. They start coming to church out of interest, as a way of looking for God, and get taken up into the activities, the social events and the rituals of church life.
The church, as a human institution, relies on volunteers, and these people are often willing to volunteer, and they often have the time and capacity to contribute in various ways. It seems churlish to refuse their offers, and it can be very hurtful. To refuse their help is generally seen as a way of rejecting them as people, which of course we do not want to do. So they start to contribute to the life of the church.
They may well have a vague idea that they are doing 'their bit for God' in this way, and settle down with the idea that, having become a part of God's people, they have 'found God' as much as they are likely to. They learn to say their prayers along with the rest, and are accepted as part of the church. People at this stage can form the respected backbone of the local church.
That is what can happen when people get stuck at this stage. For many, spending a while here seems to be necessary. The person who is interested is not only gathering information about the Christian faith, but is very often discovering Christian culture. A lively church, to an outsider, is a weird group of people. It takes some getting used to. Many people (understandably) find it very difficult to commit themselves to a faith, and hence a group of people, if they do not feel they understand it well enough to believe they will 'fit'.
- Experience of Christian love (-5)
On the outside, almost all that Christians do and say can be understood in human terms. Church Prayer Meetings and ballroom dancing are both social activities, and going to church provides you with a bunch of friends and a structure to your social life in much the same way as joining the local pub darts team.
Many people think that what they see on the outside is all there is to the Christian faith. They can know all about what goes on, on the outside, yet have no idea of what is happening on the inside. And they do not know that they do not know, if you get the meaning.
Something must happen to step into their experience, to make them realise that there is more to the Christian faith than the outward activities. There is something real at the centre of it, something different, something which they do not share.
What often happens is they experience Christian love. It touches them on the inside, and they realise that there is something here they cannot explain, something beyond their experience. People are not capable of that kind of love, not ordinary people like this. There is something - and this can be a vital point of revelation - divine about that love.
So God is really there for these people, present in some way in their experience. He is a reality in their lives in a way I do not know or understand. Their talk about God is not just talk: it expresses something deeper. I am beginning to realise I want what they have got. I begin to thirst for God.
Of course, it is not always love which prompts this step - or perhaps, it is not always seen as love at the time. It can be a simple answer to prayer, or a direct revelation. The effect is the same: God is real, and I want Him.
- Aware of the basic facts of the gospel (-4)
Up to now, the Christian message for most people has been a mixture of sound ethical advice and a comforting mythology. Adam and Eve in the garden, Jesus being born at Christmas, the events of Easter: they are all powerful stories which resonate deep within and move people, Christian or not.
But if God is real, then - wait for it - these stories must be true, in some sense, at least. A real God became a real human being to die on a real cross, outside a real town in the Middle East. Real people, like me, killed Him in a horrible way. This can be quite a shock. What were just stories become frighteningly different when you realise they really happened.
At this point, someone who a few weeks earlier could have described the gospel message very well, might need to hear it for the first time. They do not need to be convinced, they simply need to hear the words said by someone who believes them to be true. This is the point where 'Tell me the old, old story' ceases to be sentimentality and becomes a vital necessity. Now they can hear - really hear - the basic facts of the gospel for the first time.
- Aware of personal need (-3)
This is in some ways the real crux of the issue. If someone does not feel their personal need of a saviour, they will never come to the foot of the cross. Many evangelists put most of their effort into convincing people of their personal need, and most of this effort is completely wasted.
If a person knows within themselves they are a miserable sinner and they deserve to go to Hell, you can tell them, they will respond and agree with you. If they do not know it within, you might be able to convince their head that 'all have sinned and fallen short of the glory of God,' but any profession of faith will be nothing more than a response to human pressure.
You are entirely dependant upon God's Spirit working at this point. You can pray for them, and you can tell them they need a saviour, but until they know they need a saviour you can go no further.
- Grasp the implications of the gospel (-2)
It is a dreadful thing to be in fear of Hell. If they have spent more than a few minutes aware of their personal need, there will often be some strong emotions churning around inside.
A person at this stage wants to hear the gospel. The difficulty here is to keep it simple. They want to hear, and the temptation sometimes is to keep on explaining things you think they need to understand. You do not need to ensure their theological soundness at this point. Depending on how much they have gained at the earlier stages, you may need to say very little more than: 'Yes, you are in a hole. That is why Jesus died: to provide you with a way out of this hole.'
The main point to check is that they understand the Lordship of Christ. The core gospel message is: Jesus Christ is Lord, and if you give your life to Him and submit to His Lordship, He will give His life to you, save you and keep you.
The gospel message is a very costly one. That is why people will only respond to it if they know the cost of ignoring it is even greater. Jesus emphasised the need for people to count the cost before they sign up, and we dare not presume to know better.
- Challenged to respond personally (-1)
This is the classic 'invitation'. The previous stage was 'Jesus died so that you may have eternal life', this stage is 'What are you going to do about it?' Of course, you do not have to put it as bluntly as that. In sales jargon, this is the 'close', but evangelism is not about selling Jesus to someone, and we can be mislead by the similarities.
This stage and the previous one often go together, but this is not essential. We easily make several mistakes at this point.
The first mistake is to give the invitation too soon. You are 'so near, and yet so far' - the temptation is to listen to your own enthusiasm or impatience rather than to the Holy Spirit for His timing. There is no rush. If God is at work in someone's life, you will not 'lose them' if they go off and sleep on it.
A variation on the 'too soon' mistake is to pressurise people to respond. The only way to come to Jesus is freely. A person can only be saved if they want to be. Just saying the words of the 'sinner's prayer' without meaning them is worse than useless. If someone is pushed into 'accepting Jesus' before they are ready, it is sometimes hard to tell later if they are really saved. It certainly causes problems. Giving your life to Jesus is a major step, and some people need time before they are ready to do it, even when they are sure they have to do it.
Of course, some people will try to put off the commitment as a way of avoiding it altogether. Every now and then you have to present the stark choice: either accept Jesus or reject Him. Choose Heaven or Hell. Sitting on the fence for ever is not an alternative: if you fail to choose God, you choose Satan. However you put it, sometimes the choice has to be presented as bluntly as this
The second mistake is to put off the invitation, or fail to give it altogether. You have been talking to someone for a while, and it is perfectly clear they know what to do. The strange thing is that many people know what to do, and yet do nothing until they are asked. So maybe all you have to do is ask. It doesn't matter if they want time to think about it, to 'count the cost'. If you ask politely and sensitively, you can keep on coming back and asking, so you have lost nothing in the attempt.
- Repentance and faith (0)
Repentance is turning around, turning to God. It is agreeing with Him that you have got it wrong up to now, and you want to go His way from now on. For some people, it is clearly a turning away from something which they have tried to put in the place of God, while for others it is more like coming home at long last.
Faith is sometimes made into something more difficult and complicated than it really is. You switch the kettle on because you have faith it will boil the water for your tea. You use a taxi because you have faith the taxi driver will take you where you want to go. Everything in life operates through faith.
Faith in Jesus works in exactly the same way. You ask Jesus to save you because you have faith that He is able to save. You want what He offers, you believe that He can supply it, and so you turn to Him. On this level, the only difference between Jesus and a kettle is that there are many ways of getting water boiled, but only one way to get eternal life.
Of course, there is the mystery of God at work in the life of the individual coming to faith, the mystery of regeneration. Spiritual forces and powers are at work, angels and demons watch in awe as the wonder of re-birth takes place. But you don't have to worry about all that. God does His bit, and we do not need to understand it.
What is the evangelist called to do at this point? As little as possible! Some people need no help at this point, so don't get in their way. Some people just need to be encouraged to pray, to talk with Jesus, and it all spills out.
Others are less clear. 'Yes, I want to be saved. What do I do?' For them, you explain as simply as possible that God wants them to repent and believe. Now is not the time for detailed theology - just offer the bare minimum to enable them to understand what they need to do, and let them get on with it.
For those who needed no help, it may be appropriate - after they have finished praying and calmed down a little - to check that they do understand about both repentance and faith. But that is all.
There is an optional short talk to give at this point, and 97% of the time it is given faultlessly. Most of us remember it very well because we were given the same talk when we became Christians. It goes like this. "Okay. You have been saved by grace. That's great, but don't imagine it will always be this easy. You have to keep the rules. You have to go to Church every Sunday. You have to get up early in the morning to read your Bible and pray. You have to join a Housegroup. You have to..."
All right, I lie. It is probably more like 98%. I realise this is a vital message, that your new convert has to learn that most Churches operate on works rather than grace, and that the best way to motivate Christians is through guilt rather than forgiveness. But do you have to hit your new convert with this right now? Why not allow them a few days to enjoy the experience of praying and reading their Bible because they want to? Why not let someone else have the job of turning this into a miserable duty? It's just a suggestion.
- The Home Straight
We all need to be brought to the foot of the cross, and in a sense our journey finishes there. Certainly, we never 'move on' from there. There is no deeper teaching, no further revelation than that of the cross. The Christian faith contains no secret or hidden truth, despite the thousands of teachers who will promise to reveal it to you. Any attempt to leave the cross behind is not moving on but falling back, not deeper fellowship with Jesus but turning away from Him. All we have, all we could ever hope for, is present in the cross.
But in another sense, the foot of the cross is just the start of our life's journey. We cease the finite journey to God, and start the infinite journey into God. Salvation from the guilt of sin is complete, and salvation from the power of sin begins. We have been given a place in Heaven: now the work begins to make us fit for Heaven. In traditional terms, we have been justified, and we start to become sanctified.
We would never imagine that physical growth stops when a child is born: birth is just the starting point for life. Spiritual growth is the same: the New Birth is the starting point for the New Life. All the lengthy journey to the foot of the cross is just a preparation: it brings us to the point where we can get started, where we can start to discover what real living is about.
The writings of Christian saints and mystics are useful to us as Christian autobiography. They tell us "This is my experience of God," and we can learn from them. What we must not do is treat their writings as a road map.
Part Three: How to Use the Scale
- Alternative Routes
The pathway shown is just one from an infinite number of possibilities. It is unique because it is the only path which leads to eternal life, but to the people on it at each stage it appears to be only one of a range of alternatives.
There is a serious problem in trying to show some of the alternatives on a sort of map: you either show a route to Jesus from the alternative branches, or you don't. If you do, you imply that "all roads lead to God," and if you don't, you imply that a person who has taken a wrong turning has to go back to the junction they missed before they can progress along the right road.
Sometimes there is a sense in which a person has to turn away from an earlier decision in order to keep travelling towards God, but this happens far less often than we think it should. You and I would probably have tried very hard to convince Saul that throwing Christians into prison was a bad idea. Fortunately, God knows better, and generally moves people on from where they are, not back.
- Assist Understanding
Another thing which should be clear by now is that the scale is not prescriptive. It does not tell you what to do or say. Every person is an individual, and the whole point of the scale is to help you be sensitive to where that person is and how to communicate with them.
The Modified Engel Scale is offered to assist evangelism: not as a tool but as training. We are called as Christians to be 'co-workers' with God, and this requires of us both obedience and understanding. Use of the scale assists our understanding of what God is doing and what He wants us to do.
- Not for Presentation
Possibly the most important thing to remember is that the scale is not intended for presentation to your prospective convert! There are at least two good reasons for this.
Firstly, people do not like being labelled. They do not like to feel they are being categorised. The purpose of the scale is to help you treat them as individuals, and not just lump them together with all the 'unsaved' - and they will not appreciate your explanation that you are putting them into this box because it is much more helpful than the box you would have used before!
And secondly, if your contact is not completely put off by the concept of the scale, you will probably end up discussing the scale, justifying it, suggesting alternatives, comparing the strengths and weaknesses of the different options, and so on. Anything, in fact, except presenting Jesus. We are not called to explain the scale, we are called to present Jesus to them.
- Present Jesus
We are called to present Jesus. Could this whole discussion be one big distraction from that simple object? Clearly, I do not think so. To present Jesus to someone, the pair of you have to speak the same language. You may be intending to present Jesus, but if you speak a different language your words are meaningless. You can explain the gospel to someone at level -12, but unless God steps in and does another 'Road to Damascus' job, your words will be wasted: they are not in a position to understand what you mean. You need to pray and try to communicate the presence of God as a reality in your life - to communicate that He is not just a figment of your imagination or an externalisation of your subconscious desires.
- Let in the Light
We are called to present Jesus. We are not called to criticise, attack or demolish the alternatives to Jesus. Evangelism is inherently constructive, not destructive. We are not called to convince people that Islam or Buddhism or Communism or Materialism is evil, wrong or inadequate: we are called to offer them Jesus. Once they see Him, they can make up their own minds.
There is a little truth, a little light in almost every religion and ideology that people cling to. Don't attack the candle, just let in the daylight. No-one relies on the light from a candle when standing in the sunshine, but until people see the true light they would be foolish to give up their candle.
Appendices
1. God's Work in Human Lives
God's work moves from experience to the intellectual to the personal: first He gives us the experience, then He gives us the understanding of it, and then He expects a response. He initiates contact with an experience, He then offers understanding, and then gives us the responsibility to do something with them.
When God speaks, it is not simply in the abstract. The experience He gives is not simply to attract our attention: it is also part and parcel of the message. The message flows out of the experience, out of real life. Theology is always grounded in reality. Time and time again, when God speaks He first connects with us, and then provides the theological meat: "Fear not, little flock" (personal) Why? Because "it is your Father's good pleasure to give you the Kingdom" (theological).
Theology gives rise to action. You know what a person really believes by seeing how they behave. This is what Jesus taught: by their fruit you shall know them. Out of the fullness of the heart the mouth speaks. In New Testament days, the heart was regarded as the seat of the intellect, so we would say 'mind' instead of 'heart'. What you say and what you do reveals what you believe.
We have a slight problem here. We are too used to deception. People are often dishonest, even with themselves, about what they believe. Time and time again, people say they believe one thing, think they believe it, and then go off and do something completely different. But the kind of belief the Bible tells us about is belief which results in action.
Religion has become a 'spiritual' activity. It is an inner activity, a search for peace within. Society today approves of that kind of mysticism. People are familiar with terms like 'peace' and 'inner light'. They are not familiar with a faith that says 'because God loves me, I do what I can to feed the hungry and bind up the wounded.'
God's work is to change our minds so that our lives will change. The objective is not to stop people sinning (that is a by-product of discipleship) but to get people involved in building the Kingdom of God. People see - and we so often present - the Christian life as a series of things we don't do, a set of things to avoid. But God's will for our lives is active and creative. The response that God draws out of us is far more exciting and demanding than anything He asks us to give up.
2. Lord and Saviour
Our Churches are full of partly-converted people. The greatest problem with evangelism is not that too few are getting saved, but that too many are. Or, rather, too many are responding to half a gospel.
In the New Testament, Jesus is proclaimed as Lord. The Galilean peasant is revealed to have an authority that is far higher than that of any earthly King or Emperor. The message is clear: Jesus is Lord. You can choose to submit to Him now or later, but one day every knee will bow and every tongue confess that Jesus is Lord, to the glory of God the Father. You can postpone, but you cannot avoid, recognising Jesus Christ as your rightful Lord and Master.
He is also our Saviour. He plucks me from the miry clay and sets my feet upon a rock. But why? So that I can continue to live my life as before? No - so that I can follow Him. He has saved my life, my life now belongs to Him. He now has a two-fold claim on my life, both as the Lord of Creation and as my personal Saviour and Redeemer.
3. The Original Version
I have seen several versions of the Engel Scale over the years. This is one of the first I met, and seems to be fairly representative of the other variants.The Dynamics of New Birth
What God is Doing What Our Task Is Man's Response (The Engel Scale)
Revealing
(Romans 1:19-20) -10 No God Framework
" Prayer (Acts 6:4) -9 Vague awareness and belief
" " -8 No knowledge of Christianity
" " Presence (being a model) (Matthew 5:16) -7 Aware of Christianity
Convicting
(John 16:8) " " Preparation (Hos 10:12; 2 Cor 5:11) -6 Interested in Christianity
" " " " -5 Aware of the basic facts of the gospel
" " " " Proclamation
(Mark 1:4; 2 Tim 4:2; Rom 16:25-27) -4 Grasp of the implications of the gospel
" " " " " -3 Awareness of personal need
Rebirth/Renewal
(Titus 3:4-5) " " " " -2 Challenge and decision to act
" " " " " Power
(Mat 4:23; Acts 2:43; Acts 14:9-10) -1 Repentance and faith
New Birth (2 Cor 5:17)
+1 Join a Church Bible Study Group
Transforming (2 Cor 3:18) Follow-up and discipling (2 Tim 2:2) +2 Growth in Christian Character
+3 Use of gifts in the Church
+4 Christian Lifestyle
Effective sharing of faith
4. Diagnostic Questions
These are some possible questions to help determine where a person is on the revised scale.
No God framework (-12)
Is it possible there is a God?
Do you believe God may exist?
Are you certain there is no God?
Experience of emptiness (-11)
Is there a purpose to the universe?
Is life on Earth purely the result of chemical processes?
Does the human race have a destiny to fulfil?
God framework (-10)
Do you think you may be mistaken about whether God exists?
Is it possible you may be mistaken in your ideas about God?
Vague awareness and belief in God (-9)
Do you think there probably is a God?
Do you think God is a person?
Do you think God likes some things?
Do you think God gets angry about some things?
Do you think God created the universe?
Wondering if God can be known (-8)
Do you think a person can know God?
Do you hope it may be possible to get to know God?
Do you believe anyone in the past has known God?
Can you name anyone who you think knows God or has known God?
Aware of Jesus (-7)
Do you know who Jesus Christ was?
Do you think Jesus was a historic person?
Can you name a Christian who has shown something of God's love?
Interested in Jesus (-6)
Do you think the life of Jesus has anything to show or teach us today?
Do you think the Bible may have something useful to say to people today?
Experience of Christian love (-5)
Have you met a Christian who has shown you something of God's love?
Aware of the basic facts of the gospel (-4)
Do you think Jesus was the Son of God?
Do you think Jesus was God and chose to become human?
Do you think Jesus died to save us from our sins?
Do you think Jesus really died on the cross?
Do you think Jesus rose from the dead?
Aware of personal need (-3)
Do you think that a life without God lacks something important?
Is it important to you to develop a personal relationship with God?
Do you believe you are responsible for sins you have committed?
Do you feel in need of God's forgiveness of your sins?
Grasp the implications of the gospel (-2)
Is it possible to become a Christian and continue to live as before?
Challenged to respond personally (-1)
Do you feel a need to commit your life to Jesus?
Repentance and faith (0)
Do you want to give your life to Jesus now?
Rabu, 07 September 2011
STUDI KOMPARASI PERSPEKTIF INJILI DAN GEREJA ARUS UTAMA TENTANG KRISTUS SEJARAH
Oleh : Pardomuan Sihombing
I. Pendahuluan
Adalah suatu fakta yang tidak terhindari bahwa sepanjang sejarah, sejak kelahiran Kristus, nama Kristus banyak dipersoalkan, ditolak bahkan dicerca. Namun nama itu juga tetap disebut, dipercaya, dicinta, dimuliakan bahkan disembah oleh mayoritas penduduk dunia. Sejak kelahiranNya, Kristus dianggap pribadi yang kontraversial, bahkan tidak dianggap istimewa oleh lingkunganNya. Orang Farisi pernah menyebutnya 'Beelzebul' atau penghulu setan (Matius 12:24) dan ketika akan disalib Dia di caci maki, diolok-olok, dihina sebagai 'raja' dan direndahkan lebih rendah dari seorang pembunuh yang penuh dengan dosa, bernama 'Barabas' (Matius 27:21). Keragu-raguan pada Kristus sebenarnya juga terjadi di kalangan murid-muridNya. Sebut saja Thomas 'meragukan kebangkitanNya' (Yohanes .20:25), dan Yudas menyerahkan Kristus untuk di salib. Bahkan saat Kristus sebelum naik ke sorga dan memberi pesan terakhirNya yang penulis yakini menjadi tugas utama para pengikut Kristus, ada beberapa murid dan pengikutNya yang meragukan diriNya (Matius 28:16-20) Namun fakta dan data Alkitab juga membuktikan bahwa para Rasul melandaskan ajaran gereja pada Kristus sebagai Tuhan, bahkan rasul Paulus menjadikan peristiwa kebangkitan Kristus sebagai fondasi iman Kristen. Paulus mengatakan: "Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih tinggal dalam dosamu." (I Korintus 15:17). Bagi Paulus kebangkitan Kristus dari kematianNya merupakan titik tolak dan dasar mutlak keselamatan untuk semua manusia. Kristus menjadi satu-satunya mediator antara manusia yang berdosa dengan Tuhan Allah yang kudus untuk sampai ke sorga yang kekal (I Timotius 2:5) Pro dan kontra tentang Kristus sejak kelahiranNya sampai masa kini menjadi berbincangan terbuka, khususnya dikalangan agamawan yang bersentuhan langsung dengan diskusi tentang Kristus. Masalah studi 'Kristus Sejarah' yang semula merupakan perdebatan sekelompok teolog saja, namun dalam era informasi yang sangat maju ini, dipacu oleh peberitaan di surat kabar, majalah, buku, TV dan internet, membuat studi ini menjadi debat terbuka yang cukup mendatangkan silang-pendapat yang hangat, apalagi dengan adanya komentar-komentar yang sangat provokatif.
Presentasi ini mencoba mendiskusikan, atau lebih tepatnya membandingkan sudut pandang kelompok Injili dan kelompok gereja arus utama tentang Kristus sejarah, sebagai salah satu tugas utama dalam mata kuliah Soteriologi dan Kristologi di STT Baptis Indonesia, Semarang. Harapan penulis jabaran berikut ini akan menambah khasanah pengetahuan, wawasan tentang Kristus Sejarah, dan objektif dalam paparannya. Penyaji membagi presentasi ini menjadi lima bagian: pertama, Pendahuluan-sudah dipaparkan; kedua, Latar belakang dan Tujuan Kristus Sejarah; ketiga, Perspektif Kaum Injili Atas Kristus Sejarah; ke empat, Perspektif Gereja Arus Utama Atas Kristus Sejarah; dan yang terakhir Kajian Kritis dan Penutup.
II. Latar Belakang Dan Tujuan Kristus Sejarah
Persoalan teologi, soteriologi-kristologi pada era post-modern ini dilatarbelakangi oleh beberapa peristiwa besar yang sangat berpengaruh dalam sejarah dunia, yaitu renaissance (zaman bangkitnya gelombang pemikiran humanism, yaitu kebebasan berteologia, kebebasan berilmu pengetahuan, dan kebebasan dalam gereja. Penekanan humanisme adalah, bahwa manusia sebagai pusat hidup bagi dirinya sendiri–puncaknya abad 15-16), rasionalism (membuang segala hal yang berbau supranatural dalam teologia tradisional-segala sesuatu dimengerti melalui akal budi, serta perhatian manusia beralih dari Allah kepada manusia - abad ke-17) dan enlightment (menonjolkan kemampuan dan kemandirian akal budi, akal budi menempati otoritas tertinggi bagi manusia. Pada zaman tersebut muncul banyak filsuf dan mempengaruhi dunia teologia dan kekristenan - abad ke-18). Ketiga gerakan diatas melatarbelakangi lahir dan berkembangnya teologi liberal. Kristus Sejarah yang bermula dari persoalan kritik Alkitab, dan mempertajam persoalan teologi Kristen, Soteriologi-Kristologi.
Dalam perjalanan peradapan sejarah gereja, sudah menjadi suatu fakta bahwa dalam kelompok Kristen ada yang berusaha dengan keras untuk mengembangkan ajaran Kristen supaya dapat di terima oleh agama-agama lain. Tujuannya adalah agar agama Kristen mampu terlibat dalam dialog antar-agama, dan mampu memberikan sumbangan kepada kemanusiaan melalui kerjasama antar umat beragama. Namun jika ditelusuri lebih dalam, maka ditemukan bahwa ada masalah dalam Soteriologi-Kristologi yang merintangi Kekristenan untuk dapat melakukan dialog yang korelasional dengan agama-agama lain. Untuk memediasi rintangan tersebut maka kaum gereja arus utama (pluralis) mencoba merekonstruksi bangunan Soteriologi-Kristologi dengan cara mereka agar dapat masuk ke ranah dialog antar-agama.
Pada umunya kelompok gereja arus utama menganggap bahwa konsep Soteriologi-Kristologi Injili (Orthodoks) yang selama ini telah di pegang kekristenan selama berabad-abad ternyata tidak memberi peluang untuk membuka kemungkinan ke arah dialog yang korelasional. Untuk itu kelompok gereja arus utama mencoba menggagas kembali, mengadakan penelitian atau mengkaji ulang doktrin Soteriologi-Kristologi Kristen agar dapat masuk ke dalam dialog yang lebih terbuka dengan agama-agama lain.
Kelompok Kristus Sejarah memulai dengan kritik Alkitab yang menggunakan metode-metode ilmiah untuk menyelidiki Kristus dalam Alkitab. Penyelidikan ini menghasilkan rumusan teologi baru, Soteriologi-Kristologi baru yang sangat bertolak belakang dengan rumusan tradisional/orthodok (Injili).
a. Jesus Seminar
'Jesus Seminar' se-nyawa dengan Kristus Sejarah yang diselenggarakan atas sponsor Westar Institute di Amerika Serikat dengan maksud memperbaharui penyelidikan tentang Kristus, tepatnya 'ucapan-ucapan Kristus yang otentik.' Laporan lengkap penyelidikan ini dibukukan dalam buku berjudul 'The Search for the Authentic Words of Jesus, The Five Gospels, What Did Jesus Really Say?' Robert W Funk, profesor Perjanjian Baru di Montana University, sebagai ketua dari Seminar ini dan John Dominic Crossan, rahib Roma Katolik Irlandia yang terpaksa melepaskan kerahibannya karena pandangannya yang kontroversial atas Alkitab, beliau seorang profesor di De Paul University, Chicago di Amerika Serikat. Disebutkan dalam prakata buku itu bahwa buku itu disusun setelah 6 tahun kerja oleh ahli-ahli yang disebut dididik di universitas-universitas terkemuka di Eropa dan Amerika Serikat. Pertemuan pertama dilakukan pada tahun 1985 diikuti 30 peserta dan 200 orang lainnya kemudian ikut bergabung. Pertemuan diadakan dua kali setahun untuk mendiskusikan satu-persatu ucapan-ucapan Yesus yang ada dalam Alkitab. Buku, Jesus Seminar tersebut berisi dan memuat terjemahan kitab Injil yang disebut sebagai 'The Five Gospels' dengan memasukkan 'Injil Thomas' sebagai Injil ke lima. Buku tersebut disebut sebagai 'The Scholar Version' (SV) yang memberikan kesan akademik, dianggap merupakan versi yang mudah dimengerti oleh pembaca Amerika modern, seperi jemaat abad pertama. Adapun cara kerja yang dilakukan: Pertama, mengumpulkan 'ucapan-ucapan yang dianggap dari Kristus' baik dari Alkitab maupun dari sumber-sumber kuno yang dapat dikumpulkan. Ada ucapan-ucapan berjumlah sekitar 1500, kemudian dibagi dalam 4 kategori, yaitu perumpamaan, aforisme, percakapan, dan cerita yang mengandung ucapan Yesus. Ucapan-ucapan lebih pendek dianggap lebih asli karena orang lebih mudah mengingatnya daripada kalimat-kalimat panjang yang mungkin disusun kemudian dan sudah berkembang, ditambahi, dan dimodifikasi. Kedua, dilakukan pemungutan suara oleh yang hadir untuk menentukan keaslian ucapan Kristus. Metode dalam menentukan keaslian dari ucapak Kristus tersebut tersedia empat pilihan. Pertama, yang dianggap ucapan Kristus: (1) Asli diberi warna merah, yang dianggap ucapan Kristus sendiri; (2) Mungkin Asli diberi warna merah muda, masih diragukan atau telah mengalami perubahan-perubahan selama proses salinan; (3) Mungkin Tidak Asli diberi warna abu-abu, tidak diucapkan oleh Kristus tetapi mengandung gagasan Kristus; dan (4) Tidak Asli diberi warna hitam, ucapan yang dianggap bukan dari Kristus namun ditulis pengikutnya yang setia. Ucapan-ucapan itu disusun untuk merekonstruksikan kembali secara otentik sejarah tentang apa yang dikatakan dan diperbuat semasa Kristus hidup.
b. Mengapa Jesus Seminar diadakan?
Tujuan utama Jesus Seminar adalah untuk membungkam Kristus dan kitab-kitab Injil. Kristus tidak dianggap mengaku sebagai Mesias dan 'Allah yang menjadi daging', Dia tidak berbicara mengenai kedatanganNya keduakali, Dia tidak menjanjikan akan mengampuni dosa, Dia tidak mengkotbahkan 'kotbah di bukit', dan bahkan Dia tidak pernah 'mengutus murid-muridnya' untuk memberitakan Injil. Kesimpulan seperti itulah yang disebar luaskan secara terbuka di mass media tanpa ada pemeriksaan serius dari pihak mass media dan pembahasan persidangan teologi dan gereja. Dalam prakata buku tentang hasil Jesus Seminar tersebut ditulis bahwa buku itu disusun setelah 6 tahun kerja para ahli pendidikan di universitas-universitas terkemuka di Eropa dan Amerika Serikat. Pada kenyataannya, mayoritas dari anggotanya adalah teolog biasa yang tidak menonjol. Dari para ahli Perjanjian Baru di universitas-universitas terkemuka, hanya Claremont University yang ada wakilnya, sedangkan pengikut dari Emory University hanya sekali datang. Para ahli Perjanjian Baru dari universitas-universitas terkemuka seperti Yale, Harvard, Princeton, Duke, Union, dan Chicago, tidak ada yang hadir. Para peserta seminar bukanlah tergolong tokoh dalam pendidikan teologi, kecuali Crossan dan Borg yang punya pengalaman mengajar di universitas. Umumnya peserta seminar adalah orang-orang yang tidak banyak dikenal di kalangan pendidikan tinggi teologia dan tidak ada yang mewakili seminari teologia, mereka bertindak sebagai pribadi-pribadi. Dengan menyimak peserta seminar, adalah terlalu ceroboh untuk menganggap kesimpulan seminar itu telah mewakili dunia teologi.
Setelah diadakan survey ternyata para ahli yang berkumpul adalah kelompok teolog yang bernada sumbang akan kekristenan dan antipati terhadap konservativisme Kristen. Jesus Seminar dalam prosesnya juga mengalami “pendewasaan”. Ungkapan-ungkapan para peserta Seminar yang semula begitu meyakinkan bahkan radikal, dengan adanya kritik-kritik dari luar ternyata kemudian berubah melunak. Ini menunjukkan bahwa mereka berangsur-angsur mengakui juga keterbatasan mereka. Penemu 'Jesus Seminar' Robert Funk, berkata bahwa tujuan seminar ini adalah untuk mencari suatu cerita fiksi baru tentang Kristus dan Injil yang berbeda dengan isi Injil tradisional. Gagasan kontroversial dan provokatif ini menyebabkan Crossan harus menanggalkan jubah kerahibannya dari gereja Roma Katolik. Jesus Seminar diadakan bukan untuk menyelidiki dan mencari kebenaran tetapi untuk mencari legitimasi pandangan radikal mereka. Polemik yang 'sensasional', 'provokatif' dan 'kontroversial' dalam alam Amerika Serikat mudah dijual. Modal dari Westar Institute dan liputan mass media yang intensif termasuk liputan majalah 'Time' ke seluruh dunia, seminar ini menjadi terkenal. Dalam seminar-seminar yang diadakan secara berpindah-pindah dari kota-ke-kota mass media diundang untuk meliputnya. Di Amerika Serikat ada banyak lembaga yang menghibahkan dana besar bagi para teolog dan seminari teologi untuk studi kebenaran Alkitab, tetapi berita yang menguatkan bahwa Kristus yang diimani adalah benar tidak akan menarik mass media dan kurang laku menjadi komoditi bisnis komunikasi massa. Berita-berita yang bersifat skandal, sensasional, kontroversial, dan provokatif lebih laku di jual melalui mass media. III.Perspektif Kaum Injili Atas Kristus Sejarah
Selama berabad-abad, Alkitab, khususnya Perjanjian Baru, menjadi acuan dan sumber utama dan penting untuk mempelajari Kristologi dan Soteriologi. Bagi kaum Injili, Alkitab adalah Firman Allah merupakan sebuah harga mati. Bahkan pada abad ke 16 (1517) tokoh reformasi seperti Martin Luther menyerukan bahwa otoritas Alkitab sebagai satu-satunya otoritas tertinggi bagi iman, keselamatan dan menjadi dasar dari seluruh doktrin Kristen.
Pada abad 18 seiring dengan masa pencerahan, sebagaimana telah disinggung penulis pada awal paper ini, dimana rasio manusia dijadikan sebagai tolak ukur untuk menentukan sebuah kebenaran, maka pernyataan-pernyataan Alkitab yang telah dipercaya dan diterima selama berabad-abad mulai diganggu gugat dan dicoba dibongkar sampai ke akar-akarnya. Hal yang sama dilakukan untuk doktrin Soteriologi-Kristologi. Kristus yang telah diakui dan diterima sebagai Allah, oknum kedua Tritunggal, selama ber-abad abad juga digugat dan dicoba ditafsirkan ulang.
Perkembangan Rasionalisme yang mempengaruhi kekristenan menghasilkan keragu-raguan akan nilai Kristus sebagai Tuhan dan satu-satunya juruselamat dunia. Sejalan dengan tumbuhnya 'Kritik Historis' atas Alkitab sejak abad ke XVIII dan juga pada abad ke-XIX yang dikenal dengan 'The Quest' (penyelidikan). Ada cukup banyak tokoh yang mewakili The Quest ini, seperti David Friedrich Strauss, Albert Schweitzer, dan puncaknya adalah dalam diri Rudolf Bultmann pada pertengahan abad ke-XX. Strauss mempersoalkan mujizat Kristus yang dikatakannya tidak benar-benar terjadi dan menyebutnya sebagai mitos. Albert Schweitzer menolak mujizat. Anti-supranatural memuncak dalam diri Rudolf Bultmann yang memisahkan Kristus Iman dan Kristus Sejarah yang dikenal dengan 'demitologisasi'.
Istilah Kristus sejarah dimunculkan untuk membedakannya dengan istilah lain, yaitu "Kristus yang diimani". Istilah pertama dimengerti
sebagai Yesus yang sesungguhnya, atau ."the real Jesus", sedangkan istilah
kedua, mengacu kepada pribadi Kristus yang telah dipoles oleh para
rasul. Para peneliti “Kristus Sejarah” menuduh bahwa para penulis Alkitab tidak menulis Yesus yang sesungguhnya, baik itu ucapan, karya serta istilah-istilah yang diberikan kepada Kristus yang mengacu kepada ke-AllahanNya, tapi hanya merupakan ciptaan atau kreasi para rasul, bukan menggambarkan Kritus yang sesungguhnya.
Para ahli Kristus Sejarah ingin `menemukan' kembali apa sesungguhnya yang diucapkan dan dilakukan oleh Kristus. Sebagai hasilnya, lahirlah apa yang disebut "the first, the second and the third Quest.” Perbedaan yang mencolok dan penting dari masa 'the quest' dengan 'the new dan third quest' adalah bahwa pada penyelidikan pertama kitab Injil diterima sebagai benar tetapi aspek mujizatnya ditolak. Dalam penyelidikan berikutnya kebenaran kitab Injil yang ditolak dan isi kitab dinilai dari sudut pandang pemikiran rasionalisme, logika dan Injil dianggap rekaan manusia. Jika kita membaca dan mengamati seksama tulisan dan pandangan para ahli tersebut di atas, maka kita dapat menemukan beberapa hal: Pertama, penelitian yang dilakukan tidak menjelaskan tentang siapa Kristus, wajah Kristus yang dibangun tidak utuh tapi tercabik-cabik. Kedua, peneliti memisahkan Kristus sejarah dari Kristus yang diimani. Ketiga, untuk `menemukan' kembali Kristus yang sebenarnya terlepas dan terpisah dari tulisan para rasul, bukan didasari motivasi mencari Yesus yang sesungguhnya.
Manakah lebih logis untuk menerima `Kristus Sejarah' nya para ahli
dan menolak Krsitusnya para rasul? Bukankah para rasul telah hidup
bersama Yesus, mendengar sabdaNya dan menyaksikan sendiri karya-
karyaNya? Alkitab berkata:"…apa yang telah kami dengar, kami lihat dengan mata kami,telah kami saksikan dan telah kami raba dengan tangan kami… itulah yang kami tuliskan kepadamu (1 Yohanes 1:1). Kisah dan kuasa Kristus didalam Alkitab adalah dongeng? Pernyataan itulah yang dilawan oleh Alkitab itu sendiri: "Sebab kami tidak mengikuti dongeng-dongeng dan isapan jempol manusia…tetapi kami adalah saksi mata" (2 Petrus.1:16). Para rasul subjektif dan tidak objektif menuliskan Kristus yang sesungguhnya?
Sekiranya tuduhan itu benar, maka itulah gambaran terbaik dan
terlengkap dari Yesus sejarah yang pernah ada.
Barangkali yang tidak disadari para peserta Kristus Sejarah ini adalah kelemahan mutlak dari metode mereka tentang penyelidikan Jesus Seminar, mereka hanya terkonsentrasi pada kitab-kitab Injil, sedangkan data-data Yesus dalam kitab-kitab para Rasul dan tulisan para Rasul diabaikan karena dianggap rekayasa gereja. Rasul Paulus dianggap sebagai tidak mempunyai minat pada Yesus, gaya cerita dalam Kitab-Kitab Injil dan Kisah Para Rasul hanya dianggap sebagai kemasan mitos yang didasarkan pada iman para murid. Suatu usaha menarik dari sekelompok kecil teolog yang begitu yakin bahwa pandangan mereka mengenai Kristus Sejarah dianggap benar dan ingin menghapus keyakinan sejarah gereja yang sudah melalui dua milenium yang memproklamasikan bahwa 'Kristus itu Tuhan.' Raymod E. Brown seorang tokoh Katolik Roma yang adalah mantan profesor studi Alkitab di Union Theological Seminary, New York City, dan anggota ‘Komisi Alkitab Pontificiat Roma. Berkenaan dengan tokoh-tokoh dibalik Kristus Seminar, Raymon mengatakan: “When we read the historical Jesus written by these scholars, we actually got nothing about Jesus. They only show who they are they are very subjective and lack of the historical facts."
IV. Perspektif Gereja Arus Utama Atas Kristus Sejarah
Pada umumnya kelompok ini penganut teologi Liberal. Dalam melihat Soteriologi-Kristologi, mereka mempersoalkan Kristus imani. Kelompok ini melakukan studi kritis mengenai keorisinilan teks-teks Alkitab dan melihat relasi antara peristiwa Kristus dan waktu penulisan. Kesimpulan yang mereka dapatkan adalah, apa yang ditulis oleh para penulis Injil tentang Kristus, sesungguhnya bukanlah Kristus yang benar-benar ada secara historis, melainkan Kristus menurut pikiran (perasaan) para murid atau para penulis Injil. Jadi pada umumnya perspektif liberal mendasarkan soteriologi-kristologi mereka pada Kristus sejarah. Kristologi harus didasarkan pada Kristus Sejarah.
Marcus J. Borg, seorang peneliti Yesus sejarah menyimpulkan bahwa : Yesus adalah seorang pribadi yang diisi oleh roh Allah, guru hikmat yang bijaksana, seorang nabi sosial, dan seorang pendiri gerakan pembahauruan. Jadi dalam kristologi perspektif liberal, mereka tidak memandang lagi keunikan Kristus. Mereka menganggap bahwa Kristus bukanlah Allah. Kristus adalah sama dengan para pempin agama-agama yang lain.
Kelompok ini menolak bahwa keselamatan hanya di dalam Kristus. Penolakan terhadap finalitas karya Kristus mutlak. Seperti apa yang dikatakan oleh Stanley Samartha, ”All Christian approaches to other religions based on a theory of anonymous Christianity or cosmic Christology.” Ioanes Rakhmat memegang konsep sub-ordinasionisme dan menolak Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Ioanes Rahmat merupakan penganut Kristus Sejarah. Ia percaya bahwa kematian tentang Kristus dalam kitab Injil adalah ciptaan penulis, dan ia pun membedakan ucapan asli Kristus dan yang produk dari para penulis. Kristus Seminar menyatakan bahwa: Kristus tidak pernah menuntut diriNya disebut dan diakui sebagai Mesias.
Memisahkan antara Kristus menurut iman dan Kristus menurut sejarah, dapat menjadikan seseorang melihat tokoh Kristus bukan sebagai tokoh yang sebenarnya, sebab orang tersebut dapat membentuk sendiri tokoh Yesus, menurut kehendak dan pemahamannya pribadi. Inilah salah satu akibat kesimpulan dari “Jesus Seminar”, yang kontroversial itu. Dengan cara pandang serupa, Robert Bultmann, ahli Alkitab dari Jerman, mengambil kesimpulan bahwa secara historis, yang dapat diketahui tentang Kristus hanyalah bahwa ia adalah seorang Yahudi Palestina yang mati di salib. Ini disebabkan karena para ahli Alkitab itu terus memisahkan segala hal yang sifatnya supernatural yang tertulis dalam Kitab Suci.
Ioanes Rahmat berkata: ”Dengan adanya sub-ordinasionisme fungsional di dalam Injil Yohanes, penulis Injil Yohanes memandang figur ”Anak Manusia” sebagai suatu ”oknum” atau ”hakikat” adikodrati yang lebih rendah kedudukan-Nya dari Allah, yang dalam ketaklukan-Nya kepada Allah menerima tugas pengutusan untuk turun ke dalam dunia. Kedudukan Anak Manusia yang ”lebih rendah” ini menyiratkan bahwa oknum ”Anak Manusia” itu adalah oknum atau suatu hakikat adikodrati yang terpisah dari Allah.”
Choan Seng Song juga sangat tidak menyetujui jika orang Kristen menyembah Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Karena bagi dia tindakan itu adalah penyembahan kepada berhala. Bagi Song Kristus bukan Tuhan dan Kristus tidak pernah menyatakan diri-Nya Tuhan. Adolf Harnack menegaskan bahwa kita tidak dapat membangun doktrin Kristologi dari Injil. Menurut Harnack, Injil tidak bicara mengenai Kristus, tetapi mengenai Bapa. Harnack menulis, “The Gospel, as Jesus proclaimed it, has to do with the Father only and not with the Son.” Di pihak lain, H. J. Holtzmann berbeda dengan Harnack, karena dia mengakui adanya pengajaran Kristus didalam Injil. Namun demikian, Holtzmann tidak mengakui ke-Allahan Yesus. Karena baginya Injil tidak mengajarkan Kristus sebagai Allah, tetapi hanya sebagai manusia saja. Holtzmann menulis, “This Gospel describes a purely human Jesus for whom no claims to divinity are made.” Pandangan negatif lainnya diberikan oleh David F. Strauss yang mengatakan, “Jesus was a legendary figure whose historicity was debatable.” Setelah melihat beberapa pandangan tersebut di atas, kelihatannya, kurang lengkap jika kita tidak menyebut pandangan theolog yang satu ini, yaitu Rudolph Bultmann. Diakui atau tidak, Bultmann telah banyak mempengaruhi teolog sejagad, termasuk teolog Indonesia. Bultmann juga menolak Yesus yang disaksikan Alkitab. Bagi Bultmann, Kristus yang disaksikan Alkitab adalah Kristus yang diimani para Rasul, bukan Kristus yang sesungguhnya. Karena itu, perlu diragukan. Bultmann menegaskan: “It is impossible to recapture Jesus as He moved in Galilee and Jerusalem and to know precisely what took place in the years AD 30-33.” Dengan mengatakan demikian, itu tidak berarti bahwa Bultmann secara mutlak menolak pengakuan tentang Kristus. Dia tetap mengakui Yesus, tetapi bukan Kristus dalam Alkitab yang menurutnya telah dipoles oleh para Rasul. Bultmann menegaskan: “The mere thatness is sufficient.” Pandangan yang paling negatif dari semuanya adalah pandangan G. A. Wells, di mana bagi Wells, Kristus tidak pernah ada. “Did Jesus ever exist?”, Menurut Wells, “Jesus was a mythical figure arising out of Paul's mystical experience, for whom an earthly 'history' had later to be invented.” V. KAJIAN KRITIS DAN KESIMPULAN
Sekalipun Alkitab, khususnya keempat Injil telah menulis dengan jelas siapa Kristus, bahwa Dia adalah Allah yang patut dipuji dan dipuja, namun cukup banyak ahli (scholars) memiliki pandangan yang sangat berbeda dengan apa yang diajarkan oleh Alkitab. Ada banyak teolog yang memilki pandangan yang sangat negatif terhadap Kristus. Melalui tulisan mereka, kita dapat menyimpulkan bahwa mereka telah meninggalkan pengajaran yang Alkitabiah dan membangun pandangan sendiri yang seringkali bersifat spekulatif.
Teolog-teolog Kristus sejarah menolak pengajaran Alkitab, seperti apa adanya kata Alkitab. Karena menurut mereka penulis-penulis Alkitab, khususnya Injil, tidak menulis Kristus yang sesungguhnya (the real Jesus), tapi para penulis Injil telah memoles Kristus sesuai dengan kehendak penulis yang cenderung terlalu meninggikan Kristus. Tuduhan seperti itu khususnya ditujukan kepada Injil Yohanes yang menegaskan bahwa Kristus, yang disebut dengan Firman itu, bukan saja sejak kekekalan telah bersama-sama dengan Allah, tetapi Dia sendiri adalah Allah. (Yohanes.1:1) Kristus Sejarah memberi istilah “Yesus sejarah” (the historical Jesus) dan “Kristus yang diimani” (Christ of faith). Mereka menolak Kristus yang diimani oleh para rasul, tapi menerima Yesus sejarah.
Merupakan sebuah kesombongan yang tidak berlogika bahwa seolah-olah hanya orang-orang bodoh dan kaum fundamentalis saja yang
mempercayai Alkitab, apa adanya. Dalam kenyataannya, tidaklah demikian. Sikap meragukan serta menolak atau percaya dan menerima Alkitab ternyata adalah masalah sikap hati dan iman, bukan masalah bodoh atau pintar. Artinya, jika hati dan pikirannya sudah ditetapkan untuk menganut satu pemahaman tertentu, apa pun kata Alkitab serta para ahli lainnya, hal itu tidak terlalu berarti baginya. Sebaliknya, jika dengan iman, orang belajar dan membuka diri kepada pernyataan-pernyataan Alkitab, maka orang tersebut –tidak bisa tidak–akan dibawa kepada pengenalan dan penyembahan kepada Yesus. Menurut penulis adalah sangat baik untuk menjadi orang pandai, tapi akan lebih baik menjadi orang yang percaya akan Kristus.Mayoritas kelompok gereja arus utama yang meyakini Kristus Sejarah menganggap bahwa Kristus sama saja dengan tokoh-tokoh agama lain, Kristus yang ada di dalam Injil, yang dipercaya para penulis Injil adalah mitos atau Kristus yang diimani. Kristus adalah seorang manusia bukan Allah, bukan Tuhan dan bukan jalan satu-satunya untuk ke surga.
Kaum Injili merespon bahwa perspektif Kristus Sejarah adalah pendekatan yang kompromistis yang dapat merusak sendi-sendi jantung kekristenan. Karena pendekatan Kristus Sejarah akan memaksa orang Kristen untuk menyembunyikan finalitas Kristus dan kemutlakkan kebenaran Alkitab, serta memaksa orang Kristen untuk mengakui adanya keterbatasan Kristus dan sejarah adalah pembatasnya. Kristus bukan seperti yang ada dalam sejarah yang dicatat dalam kitab suci, tapi Kristus terbatas, Kristus benar jika diimani. Kelompok Kristus Sejarah menolak kebenaran yang dipercaya kaum Injili, karena hampir dalam tiap metode yang mereka kemukakan, mereka menyatakan bahwa sulit untuk mencapai suatu kebenaran yang objektif.
Kaum Injili seharusnya mampu mewartakan kemanusiaan dan keilahian Kristus secara berimbang. Jikalau selama ini, beberapa pengkritik Alkitab telah melemparkan ide pemisahan Yesus historis dengan Kristus-imani, maka kelompok Injili seharusnya dapat menjawabnya dengan membuktikan kemanusiaan Kristus dan keilahian Kristus. Kebenaran Allah tidak tergantung pada pengalaman dan interpretasi individu atau kelompok manapun, betapapun pengalaman dan interpretasi itu terasa kuat dan berpengaruh secara budaya. .
Ada benarnya bahwa semua tulisan sejarah dapat memiliki efek distorsi dan itupun tergantung dari pihak mana yang menuliskannya, karena kemungkinan penulis akan menitik beratkan kepada apa yang dipahami oleh kelompoknya. Hal ini terjadi karena sifat subyektifitas penulis terlibat di dalamnya. Namun, kaum Injili mengimani bahwa Kitab Suci bukanlah kitab yang dituliskan oleh manusia, tetapi oleh ilham Roh Kudus walaupun tetap melibatkan akal budi manusia penulisnya. Bagi kaum Injili, Ilham Roh Kudus inilah yang memungkinkan Kitab Suci ditulis dengan benar dan obyektif, karena yang dituliskan dalam Kitab Suci adalah kehendak Allah, bukan apa yang dikehendaki penulis.
Kelompok Injili percaya bahwa tidak ada distorsi antara Kristus yang diimani dan Kristus menurut sejarah, sebab tidak mungkin ilham Roh Kudus menghasilkan tulisan yang tidak sinkron antara apa yang harus diimani dan apa yang sebenarnya terjadi. Kaum Injili sangat percaya bahwa Alkitab mengajarkan bahwa Kristus adalah Allah yang masuk dalam sejarah manusia.
Pada akhirnya, harus diakui bahwa soal menerima ke-Tuhan-an Kristus adalah soal iman. Bagi kaum Injili bukti sejarah otentik sampai sedetail-detail-nya bukanlah persoalan, sebab Kristus tidak hanya mewakili kemanusiaan, tapi Dia adalah Allah yang mustahil dipahami secara detail dengan kekuatan dan kapasitas kemanusiaan semata seperti yang dilakukan oleh peneliti Kristus Sejarah.
Kristus tidak hanya memiliki dimensi kemanusiaan tapi juga memiliki dimensi ke-illah-ian yang mustahil untuk dipahami dengan indera lengkap. Kristus tidak hanya immanen yang mudah dan dekat untuk diselidiki, tapi juga trasenden yang melampaui indera lengkap dan teknologi canggih manusia. Tapi bagi peneliti Kristus Sejarah, bukti yang sudah nyata disertai dengan saksi yang lengkap, tertulis, dan detail sekalipun tidak cukup.
Barangkali yang paling tepat untuk meyakini Kristus Sejarah dan Kristus yang diimani, peneliti membutuhkan sebuah keputusan yang melibatkan pikiran-logika, perasaan-keyakinan dan perbuatan.
TERIMA KASIH, TUHAN YESUS MEMBERKATI.
Daftar Pustaka
1. Alkitab, Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 2010.
2. Gnanakan, Ken, the Pluralistic Predicament, Bangalore: Theological Book Trust, 1992.
3. Herlianto, Yesus Sejarah – Siapakah Aku Ini? Bandung: Yabina, 1997.
4. Hick, John & Paul Knitter, Mitos Keunikan Agama Kristen, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001.
5. Knitter, Paul F., Pengatar Teologi Agama-Agama, Yogyakarta: Kanisius, 2008.
6. Lumintang, Stevri Indra, Teologi Abu-Abu Pluralisme Iman, Malang: YPPII, 2002.
7. Newbigin, Lesslie, Injil Dalam Masyarakat Majemuk, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993.
8. Susabda, Yakub, Kaum Injili – Membangkitkan Kembali Iman Ortodoks, Malang: Gandum Mas, 1991.